Sunday, February 16, 2020

Pendidikan Karakter, Budaya Literasi, dan Kewirausahaan

Pendidikan karakter bukan hal baru namun masih terkesan asing dalam dunia pendidikan. Bahkan pendidikan karakter menjadi salah satu bagian dari pengamalan Pancasila yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotongroyongan.  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016.

Lalu karakter seperti apa dan karakter yang bagaimana yang ingin dibentuk pada diri seseorang khususnya siswa? Karakter merupakan kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus, yang menjadi pendorong dan penggerak, serta membedakannya dengan individu lain.[1]    

Pendidikan karakter di lingkungan sekolah mesti dirumuskan dengan jelas dan tegas, diketahui oleh setiap pihak yang terlibat dalam proses pendidikan tersebut. Prioritas ini juga harus diketahui oleh siapa saja yang berhubungan langsung dengan lembaga pendidikan. Sebagai contohnya guru SMA mempunyai PR dan tanggung jawab yang besar untuk bisa menggali dan menanamkan pendidikan karakter pada siswa karena karakter yang terbentuk pada diri siswa di usia SMA sudah sangat kuat. Walaupun demikian keadaanya lingkungan memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam pengembangan potensi dasar tersebut. Guru harus menjadi seseorang yang mampu membangun dan memperkuat karakter siswa di tengah masyarakat yang beragam yang menuntut seseorang harus serba siap dan serba bisa. Selain itu penguatan karakter yang dilakukan di lingkungan sekolah menciptakan siswa yang siap berkompetisi dalam dunia luar.

Cukupkah pendidikan karakter tersebut bersaing dalam dunia luar? sedangkan tantangan yang dihadapi oleh dunia luar semakin kompleks seiring dengan perkembangan IPTEK dan globalisasi, serta HAM, tentunya upaya yang dilakukan oleh sekolah harus semakin sungguh-sungguh. Perkembangan IPTEK melahirkan tantangan yang menuntut manusia memiliki kemampuan literasi lain di luar melek huruf. Jadi pendidikan karakter saja tidak cukup untuk menghadapi kemajuan dunia luar perlu adanya keterampilan lain yaitu literasi.

Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Sejak tahun 2015, Kemdikbud telah meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai bagian kegiatan Penumbuhan Budi Pekerti. Pembiasaan membaca buku non teks dilakukan selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Tujuannya untuk meningkatkan minat baca siswa. Setelah minat baca, meningkat diharapkan dapat menjadi budaya literasi.

Apakah maksud dari budaya literasi? Budaya literasi mengandung maksud bahwa upaya melek informasi harus menjadi sebuah kebiasaan bagi siswa-siswa di sekolah dasar khususnya dan di jenjang pendidikan lainnya pada umumnya. Sebuah kebiasaan yang dilakukan terus-menerus akan membudaya dan pada akhirnya akan menjadi budaya. Oleh karenanya, perlu usaha agar membaca dapat disajikan sebuah budaya bagi bangsa Indonesia. Dengan adanya budaya membaca tersebut akan membuka wawasan dan mengubah pola pikir menjadi lebih baik.

Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tingkat melek huruf yang tinggi. Namun di abad 21 seperti sekarang ini melek huruf saja tidak cukup sehingga literasi harus  menyiapkan siswa untuk mulai melek informasi. Bisa dikatakan melek informasi adalah update dan mengikuti perkembangan jaman.

Seperti pemaparan di atas budaya literasi membuat seorang manusia melek informasi dan teknologi. Literasi pada berbagai bidang akan melahirkan kreativitas, dan inovasi baru yang akan bermanfaat dalam kehidupan. Bukan hanya memperbaharui atau meningkatkan kualitas produk lama, tetapi juga bisa menghasilkan produk baru. Budaya literasi juga akan membuat seseorang tanggap terhadap peluang-peluang baru. Munculnya ekonomi kreatif dan usaha-usaha baru merupakan alternatif untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan adanya internet, banyak usaha yang sudah dilakukan secara online. Walau demikian, usaha yang dilakukan secara online,dianggap sebagai ancaman bagi usaha-usaha konvensional karena yang sulit bersaing terlebih muncul Era Revolusi Industri 4.0.

Era Revollusi Insdustri 4.0. merupakan fenomena yang mengkolaborasikan teknologi cyber dan teknologi otomatisasi. Konsep penerapannya berpusat pada konsep otomatisasi yang dilakukan oleh teknologi tanpa memerlukan tenaga kerja manusia dalam proses pengaplikasiannya. Perlu bekal yang cukup baik dari dalam maupun luar untuk mampu bersaing. Selain karakter diri yang kuat dan kemampuan literasi di bidang IPTEK maka penting bagi seseorang untuk mampu melihat peluang dan kesempatan melalui kewirausahaan.

Ketika mendengar ada kata kewirausahaan pasti tertuju pada bagaimana cara berjualan. Pengertian ini masih sangat sempit karena secara naluri kewirausahaan muncul apabila seseorang individu berani mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha.[2] Walaupun memang secara sempit seseorang yang berjualan ataupun berdagang mereka sedang melakukan kegiatan berwirausaha.

Sesungguhanya esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses penggabungan sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing. Oleh karena itu, pembekalan kewirausahaan ini penting untuk disampaikan melalui lembaga formal seperti sekolah. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan siswa menguasai materi yang ditargetkan, juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikan siswa mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai kewirausahaan dan menjadikannya perilaku.

Lalu apa yang terjadi pada sekolah di Indonesia saat ini? Kenyataannya, pendidikan kewirausahaan di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian yang cukup memadai, baik oleh dunia pendidikan maupun masyarakat. Banyak pendidik yang kurang memperhatikan penumbuhan karakter dan perilaku wirausaha siswa, baik di sekolah-sekolah kejuruan, maupun di pendidikan profesional. Orientasi mereka, pada umumnya hanya pada menyiapkan tenaga kerja. Jadi secara tidak langsung siswa disiapkan uuntuk menjadi pekerja bukan untuk menjadi seorang bos yang mempunyai lahan kerja.

Berdasarkan data di atas pertumbuhan enterpreneurship di Indonesia masih masih kecil dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainya. Untuk itu, perlu dicari penyelesaian bagaimana pendidikan dapat berperan dalam mengubah manusia menjadi manusia yang memiliki karakter dan atau perilaku wirausaha? Untuk mencapai hal tersebut bekal apa yang perlu diberikan kepada siswa agar memiliki karakter dan atau perilaku wirausaha yang tangguh, sehingga nantinya akan dapat menjadi manusia yang jika bekerja di kantor akan menjadi tenaga kerja yang mandiri dan jika tidak bekerja di kantor akan menjadi manusia yang mampu menciptakan lapangan perkerjaan minimal bagi dirinya sendiri.

Dari pemaparan di atas bukan jamanya sekolah mencetak generasi unggul di bidang akademis jika nantinya mereka hanya menjadi pekerja atau bahkan mengganggur, tetapi ada hal selain itu yang memang harus ditanamkan untuk merubah pola pikir seperti itu. Melihat dari banyaknya fenomena akan kesejahteraan masyarakat maka pentingnya penguatan pendidikan karakter, budaya literasi dan pendidikan kewirausahaan menjadi tamparan keras bagi lingkungan pendidikan agar lebih menyiapkan siswa yang siap terjun ke masyarakat melalui karakter yang kuat, kecakapan terhadap IPTEK dan melihat peluang yang muncul di era yang serba canggih. Sudah saatnya seseorang dicetak untuk menjadi seorang dengan mental kuat seperti seorang bos.

 


[1] Wiyani, N. A. (2013). Membumikan Pendidikan Karakter di SD. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

[2] Suryana (2001). Kewirausahaan: Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, Edisi Revisi. Jakarta: Salemba

 

No comments: